hijab

Bisnis Hijab

Kehidupan manusia saat ini seakan tidak dapat terlepas dari gemerlap dunia fashion. Fashion memasuki setiap sendi kehidupan, termasuk spiritual. Hal ini tergambar pada semakin berkembangnya fashion hijab di Indonesia. Penelitian ini kemudian diadakan untuk menganalisis dan mendeskripsikan konsumsi atas hijab yang kini tengah berkembang berbaur dengan dunia fashion.

Perkembangan fashion hijab memiliki banyak dampak positif bagi umat muslim di Indonesia, diantaranya semakin banyak muslimah yang berhijab dan juga mampu meningkatkan perdagangan dalam negeri. Namun dampak negatif konsumsi fashion tidak dapat dihindari. Muslimah semakin konsumtif dan memandang hijab adalah sebuah komoditas fashion yang mampu digunakan untuk menaikkan prestise, menunjukkan eksistensi ataupun mengukuhkan kelasnya sebagai muslimah mapan.

Konsep fashion diyakini Baudrillard seperti sebuah proyek yang menggiring konsumen untuk memaksimalkan daya belinya demi menjadi manusia di baris depan kenikmatan (lihat Baudrillard, 1970:89). Melalui tanda yang ada pada komoditas hijab, mereka ingin memaksimalkan tampilannya untuk tampil lebih modis dan terlihat berbeda daripada muslimah lainny. Pada akhirnya mereka semakin kecanduan berbagai artefak fashion terbaru, lantas selalu mengupayakan untuk membelinya. Demikian menurut Baudrillard, apa yang dikonsumsi oleh masyarakat postmodern adalah konsumsi itu sendiri. Mereka yang menganut gaya hijab kontemporer kemudian mengkonsumsi hijab bukan lagi berdasar pada nilai guna ataupun nilai tukar, melainkan nilai tanda yang tersimpan dalam komoditas hijab.

Baca Juga: Reseller Hijab

Menurut hasil sensus Badan Pusat Statistik pada tahun 2010, tercatat sebanyak 207.161.162 penduduk Indonesia memeluk Agama Islam. Jumlah tersebut setara dengan 87,18% dari total 237.641.326 penduduk Indonesia. Memahami kepemilikan warga negara muslim yang begitu banyak, dapat dimengerti jika kemunculan perkembangan apapun yang berhubungan langsung dengan agama Islam akan mampu menarik perhatian sebagian besar masyarakat Indonesia. Begitu pula dengan kemunculan lini fashion hijab yang kini menjadi sebuah trend dan sedang sangat digandrungi oleh muslimah di Indonesia.

Hijab dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) diartikan sebagai tutup (penutup); tabir; selubung; cadar. Pengertian tersebut senada dengan pendapat Tim Departemen Agama—penyusun Al Quran dan Terjemahan- nya—yang mengartikan hijab sebagai tabir (Shihab, 2004:74-75). Istilah hijab kemudian diaplikasikan untuk menyebut busana yang menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah serta pergelangan tangan dan kaki yang merupakan kewajiban bagi setiap muslimah.

Kini hampir setiap hari kita berpapasan dengan wanita-wanita berhijab bergaya modern, entah itu di sekolah, kantor, cafe, ataupun di swalayan. Konsep hijab yang ditawarkan saat ini memang lebih pada berhijab sesuai syariat Islam namun tetap modis dan mengikuti perkembangan fashion. Hadirnya fashion hijab ini lebih lanjut mampu menggeser anggapan masyarakat umum selama ini bahwa berhijab itu tidak cantik, kolot dan tidak fleksibel.

Mencermati fenomena fashion hijab yang kini marak di Indonesia, hijab kini telah dibaurkan dengan konsep fashion dan mengikuti perkembangan dunia fashion. Terminologi kata fashion (mode) lebih mengacu pada ragam cara dan bentuk terbaru pada waktu tertentu. Lebih lanjut ketika telah berbaur dengan fashion, maka kebutuhan berhijab tidak lagi sekedar perpaduan dari pakaian longgar dan kerudung. Segala artefak fashion seperti aksesoris perhiasan, tas, sepatu, bahkan kesempurnaan make-up harus serasi dengan hijab yang dikenakan. Akibatnya muslimah yang ingin tampil fashionable dituntut melek fashion dan selalu meng-update berbagai artefak fashion mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Demi memenuhi kebutuhannya akan fashion, banyak muslimah yang kemudian memadati mall dan berbaur dengan hingar bingar dunia belanja.

Hijab yang dijadikan sebuah praktik fashion itulah yang menurut penulis kemudian menggiring wanita muslim pada lingkaran konsumtivisme. Semakin ramai muslimah yang memenuhi pertokoan dan butik yang menjual berbagai asesoris dan busana muslim terbaru. Hijab yang berawal dari sebuah kewajiban yang diatur oleh agama dan seharusnya jauh dari segala pengaruh keduniawian, kini cenderung menjadi obyek fashion yang membuat penggunanya malahan terkesan materialistis. Pendapat yang berkembang kini adalah semakin rumit cara penggunaanya, semakin artistik penilaian terhadapnya. Semakin banyak benda-benda prestisius yang menempel pada tubuh muslimah yang dikemas dalam bentuk hijab dan segala artefaknya, semakin “berharga” pula tubuhnya dan semakin diperhitungkan pula keberadaannya.

Berdasarkan penjabaran di atas, dapat kita perhatikan bahwa konsumsi atas hijab kini bukan lagi didasarkan atas kegunaan komoditasnya. Pemilihan atas hijab lebih didasarkan pada nilai tanda yang terkandung dalam komoditas hijab tersebut. Muslimah semakin konsumtif dan memandang hijab adalah sebuah komoditas fashion yang menyimpan berbagai tanda. Tanda-tanda yang tersimpan dalam komoditas hijab mereka gunakan untuk menaikkan prestise, menunjukkan eksistensi ataupun mengukuhkan kelasnya sebagai muslimah mapan. Selanjutnya belanja hijab merupakan sebuah konsumsi atas tanda, tidak lagi memperhatikan nilai guna dan nilai tukar hijab, tapi lebih pada nilai tanda yang tersimpan dalam komoditas hijab.

Demi memenuhi hasratnya untuk menjadi muslimah modis dan modern, wanita muslim yang menyukai fashion hijab kemudian tak lagi mampu menggunakan rasionalitasnya dalam belanja hijab. Mereka akan terus belanja berbagai artefak hijab terbaru yang sedang tren dan tidak lagi mempertimbangkan kegunaan sebenarnya dari hijab yang mereka beli. Berdasarkan hal tersebut, bisnis hijab adalah bisnis yang sangat menggiurkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *